CATATAN DIREKSI

MANUSIA ADALAHA ASET TERTINGGI PERUSAHAAN

Bagi kita yang sedang bekerja dalam sebuah perusahaan bisnis, kalimat di atas pasti pernah dan sering didengar atau bahkan kita sendiri yang mengucapkannya.

Kalimat ini disampaikan kepada kita (atau kita yang menyampaikannya) tentulah dalam konteks : memahami betapa pentingnya peranan ‘Manusia’ dalam suatu unit usaha, disamping faktor-faktor lainnya (Man, Money, Method, Material, dan Machine).

Dan... Faktor Manusia (Man) jadi jargon sebagai ASET TERTINGGI.

Masuk akal kan? Manusia sebagai sang pemikir, perencana, pengelola, dan pada akhirnya merupakan inti dari yang menghasilkan. Maka jangan heran, kalimat ini sering dikemukakan para pimpinan di semua level, termasuk oleh para pemilik perusahaan.

Tetapi kenyataannya, kenapa sebagian karyawan (pada semua level) banyak mengeluh, kalimat tersebut seringkali tidak sama seperti apa yang mereka rasakan. Ada perasaan tidak berguna, dimarginalkan, ditempatkan pada posisi tidak penting, dan bahkan dengan ‘mudah’nya terjadi proses pemutusan hubungan kerja.

Mari kita mencoba mengerti kalimat itu sekali lagi : “MANUSIA adalah ASET tertinggi perusahaan”. Dari semua faktor penting di atas, hanya Manusia yang dapat berpikir, selain bekerja juga dapat berperan sebagai inovator dan motivator, bahkan faktor Manusia –dalam prosesnya– memastikan perputaran faktor-faktor lainnya (Money, Method, Material, dan Machine).

Kembali ke pengertian kata ASET; dalam klasifikasi sederhana, semua aset dapat dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kondisi, yaitu:

       > Productive Asset

       > Iddle Asset

       > Broken Asset

 

Mari kita introspeksi diri, kita dalam klasifikasi yang mana…

PRODUCTIVE ASSET, yaitu bertemunya antara ekspektasi dengan apa yang di-deliver, bahkan sering memberikan lebih tinggi/besar dari target yang ditetapkan (bukan saja kuantitatif, tetapi juga kualitatif berupa ide-ide cemerlang maupun inisiatif-inisiatif penyelesaian masalah/pembaharuan). Productive asset pasti ‘dijaga’ perusahaan, diperhatikan, dan diperlakukan secara khusus, termasuk di dalamnya jenjang karier dan kompensasi & benefit.

IDDLE ASSET, suatu kondisi dimana perusahaan mengakui kapasitas seseorang, tetapi belum dioptimalkan (baca = belum ditempatkan di tempat yang tepat pada waktu yang tepat). Ini PR bagi perusahaan. Pejabat-pejabat berwenang dan terkait akan berpikir keras bagaimana meng-optimalkan aset penting ini.

BROKEN ASSET, situasi dimana sebenarnya kita tidak lagi berdaya guna bagi proses keberlangsungan apalagi pengembangan perusahaan. Ada 2 (dua) penyebab:

  1. Salah kita sendiri, yang tidak mengikuti perubahan dan oleh karenanya tidak belajar dengan cara kerja yang baru; kita sibuk bekerja yang menurut kita benar, tetapi bukan itu yang dibutuhkan perusahaan saat ini. Sampailah kita pada suatu situasi ‘tidak penting’ dan ‘tidak diperlukan” lagi.
  2. Perubahan orientasi bisnis perusahaan, mengakibatkan fungsi-fungsi atau peranan tertentu yang tidak diperlukan lagi.

 

Kalau kita masuk dalam kondisi ini, kita bukan lagi aset –apalagi terpenting– dalam perusahaan, kita berubah menjadi BIAYA TIDAK RELEVAN. Dan pasti perusahaan sedang memikirkan bagaimana melepaskan aset jenis ini.

Tulisan ini tidak berpretensi untuk menguraikan bagaimana terhindar dan menyelesaikan kasus per kasus, hanya sekedar mencoba sharing atas kalimat “Aset tertinggi perusahaan”, tetapi mau menutup tulisan ini dengan pesan :

“Jangan sibuk dengan diri sendiri dan jadilah PRODUCTIVE ASSET

 

Salam,

 

Josep Setiawan Edy

President Director


APA KATA MEREKA

  • Dengan support yang baik dari CMN,  Mitra mampu bersaing dengan toko-toko sekitar

  • Bersama CMN, semangat mitra  dalam berjualan semakin membaik, berharap bisa terus melanjutkan kemitraan, dan berniat membuka sisi lain tokonya agar akses konsumen lebih mudah

  • Bersama CMN, Mitra  semakin berkembang, dan  berharap CMN dapat memilah produk yang banyak dicari pelanggan
  • Mitra semakin yakin akan kerjasama dengan CMN,  dan berniat  memperluas area tokonya supaya bisa menjual lebih banyak jenis barang
  • Dengan support dari CMN,  semangat Mitra semakin tumbuh, ketersediaan barang membaik,  hingga mitra tidak segan-segan  buka toko dari jam 06.00 s/d 22.00