CATATAN DIREKSI

POKEMON

Hari gini, tidak bicarakan “pokemon” ? ; apa kata dunia !?  Anda ikut berburu monster imut (virtual) ? Udah sampai level berapa ? HEBOH, kata yang tepat atas permainan baru dirilis pada tanggal 6 Juli yang lalu. Gubernur DKI “Ahok” di Instagramnya, pada saat memperkenalkan fasiltas kantin baru di Balai Kota, menyelipkan pesan, selain kantin menyediakan makanan enak, murah, sekaligus bisa menjadi tempat berburu pokemon (Nah !); Budi Gunadi Sadikin ,mantan Direktur Utama ,PT. Bank Mandiri, Tbk, secara terbuka menyatakan “ikut” bermain pokemon, dan saat ini (TEMPO, 18 Juli 2016) sudah pada level 4 ! Syahru Aryansyah, Finance & Data Technology Division Head PT. Citra Mitra Nusantara (kenal, kan ?) ikut bermain, nanti kalau ketemu si Bapak, tanya ya, udah  punya berapa jenis pokemon ?

 

Saya pribadi, secara khusus membaca banyak referensi tentang permainan ini; dan menyimpulkan permainan ini (main-nya itu sendiri) tidak-lah luar biasa; ada ratusan bahkan ribuan permainan ‘online’ di tawarkan sebelumnya – dan masih eksis. Yang membuat MENARIK adalah :di dalam permainan ini, anda harus berburu monster-2 di dunia nyata. Benar-benar harus berburu. Monster-monster virtual pokemon bisa ada dimana saja, halaman rumah/kantor, di dalam ruangan kantor (di atas meja, di kolong meja dan bertebaran dimana-mana). Teknologi nya adalah : “augmented reality”. Perpaduan antara teknologi dengan kamera ponsel dan dipandu dengan “global positioning system” dipeta online, membuat pemain dapat berburu monster-monster unik ini di alam nyata.

 

REAKSI masyarakat, seperti biasa; ada positif dan ada yang negatif. Kelompok positif menyambut meriah, karena permainan yang menarik adalah permainan yang melibatkan “otak dan otot”; pokemon menyebabkan pemain banyak bergerak untuk berburu monster, bahkan untuk “menetaskan” telor menjadi monster di-sayarat-kan pemain harus berjalan kaki dampai berkilo-kilometer.

Kelompok negatif memiliki argumentasi yang sama pentingnya; yaitu : para pemain menjadi lupa waktu, lupa tempat dan hanya focus pada permainannya, mengabaikan kepentingan/kenyamanan orang lain bahkan membahayakan dirinya sendiri.

Tidak kurang seorang Menteri Negara membuat surat edaran tentang peringatan permainan pokemon, dan banyak Pimpinan Perusahaan membuat peraturan-peraturan TIDAK BERMAIN POKEMON.

 

PENDAPAT SAYA ? Main saja ! Rugi kalau tidak paham atas perkembangan teknologi (ingat ini : teknologi), kalau menarik – teruskan; kalau tidak menarik – hentikan; paling tidak tidak ketinggalan atas ‘kekinian’. Batasannya adalah TIDAK LUCU dan TIDAK PANTAS !

Kan, TIDAK LUCU kalau pemain – yang sedang bekerja, tiba-tiba berhenti kerja dan dengan sigap mengejar-menangkap monster yang kebetulan ‘nyasar’ di ruang kerja.  Kan, TIDAK LUCU anda masuk ke ruang saya untuk berburu monster-monster virtual. Kan,TIDAK PANTAS kalau anda diam-diam meninggalkan kantor/pekerjaan di jam kerja untuk berburu monster pokemon. Kan, TIDAK PANTAS, anda yang bekerja di lapangan, tidak mengunjungi outlet Mitra, tetapi berburu Monster.

Berburu monster pada jam istirahat, pada hari libur, kenapa dilarang ?

Meminjam kalimat Guru Bangsa GUS DUR : “ Gitu aja, repot..!!

 

Salam,

 

 

Josep Setiawan Edy

President Director


APA KATA MEREKA

  • Dengan support yang baik dari CMN,  Mitra mampu bersaing dengan toko-toko sekitar

  • Bersama CMN, semangat mitra  dalam berjualan semakin membaik, berharap bisa terus melanjutkan kemitraan, dan berniat membuka sisi lain tokonya agar akses konsumen lebih mudah

  • Bersama CMN, Mitra  semakin berkembang, dan  berharap CMN dapat memilah produk yang banyak dicari pelanggan
  • Mitra semakin yakin akan kerjasama dengan CMN,  dan berniat  memperluas area tokonya supaya bisa menjual lebih banyak jenis barang
  • Dengan support dari CMN,  semangat Mitra semakin tumbuh, ketersediaan barang membaik,  hingga mitra tidak segan-segan  buka toko dari jam 06.00 s/d 22.00