CATATAN DIREKSI

(film) K A R T I N I

KARTINI, perempuan muda belia yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan; gemar belajar (membaca) dan menumpahkan semua kegelisahannya dalam surat-surat kepada “sahabat pena” nya, yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku terkenal “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”. Nama besar KARTINI yang mebuat saya ikut nonton film KARTINI yang mulai diputar pada tanggal 19 April 2017 yang lalu (tentu saja : sutradara dan para pemain juga bagian dari ketertarikan untuk menonton filim ini).

 

CERITA filmnya sendiri tidak mengejutkan, tidak ada yang ‘surprise’ bagi saya yang sudah membaca buku ini berulang-ulang, baik karena ‘pelajaran sejarah’ pada SMP dulu maupun sebagai referensi bacaan.

 

Dian Sastro (pujaan dalam film “ADA APA DENGAN CINTA”, walaupun sekuat tenaga mencoba menjadi “Kartini” kali ini (menurut saya) gagal, karena faktor usia. Sungguh sulit perempuan seusia 35 tahun memerankan perempuan muda berusia 18 tahun. Gerak wajah dan tubuh tidak berhasil/gagal menunjukkan kegelisahan Kartini.

 

Satu lagi sangat mengganggu sepanjang film ini, yaitu musik yang terlalu keras dan dominan, seolah-olah berebut ruang dan perhatian penonton, hasilnya: mengganggu!! Musik harusnya hanya pelengkap dan penguat film, bukan mencoba menjadi “tokoh” utama dalam sebuah film.

 

Christine Hakim, pelakon sebagai Ibu NGASIRAH – ibu kandung Kartini yang bersedia mengorbankan status istri menjadi gundik – tinggal di ruang belakang rumah; merelakan suami tercinta menikah perempuan bangsawan demi menyelamatkan status anak-anaknya – mendapatkan status bangsawan. Dari awal sampai akhir, Christine Hakim menyatu dengan sosok NGASIRAH yang tertekan batinnya, melihat dari jauh bagaimana anak-anaknya hidup sebagai bangsawan sedangkan dirinya sebagai bagian dari ‘pembantu rumah tangga’ yang mengurusi hal-hal ‘kotor’ (mencuci baju, menggosok dan menyiapkan makanan di dapur). Pilu – pedih dan tidak berdaya.

 

Seharusnya Dian Sastro  menolak peranan KARTINI, karena faktor usia; tidak memaksakan diri, karena tidak akan optimal. Sungguh faktor umur dan peran berhubungan langsung.

Musik – seharusnya tidak diberikan peran dominan, karena jadi “berisik” , tidak membuat bagian dari  indahnya film  bahkan menjadi titik lemah film ini.

Christini Hakim, sungguh AKTRIS luar biasa, NGASIRAH benar hidup dan bercerita. Kemampuan akting dan dengan pengalaman panjang mengambil peran yang tepat pula. Namun, pasti akan berantakan kalau Christine Hakim, walaupun  memiliki kemampuan acting (tiada tanding di Indonesia saat ini) memerankan KARTINI, karena usia Christine Hakim menjelang 60 tahun.

 

TERNYATA, peran, kemampuan dan faktor usia memiliki korelasi. Bila dipaksakan maka akan mengorbankan harmonisasi , setidak-tidaknya mengurangi hasil yang optimal.

 

Selamat Bekerja

 

Josep Setiawan Edy


APA KATA MEREKA

  • Dengan support yang baik dari CMN,  Mitra mampu bersaing dengan toko-toko sekitar

  • Bersama CMN, semangat mitra  dalam berjualan semakin membaik, berharap bisa terus melanjutkan kemitraan, dan berniat membuka sisi lain tokonya agar akses konsumen lebih mudah

  • Bersama CMN, Mitra  semakin berkembang, dan  berharap CMN dapat memilah produk yang banyak dicari pelanggan
  • Mitra semakin yakin akan kerjasama dengan CMN,  dan berniat  memperluas area tokonya supaya bisa menjual lebih banyak jenis barang
  • Dengan support dari CMN,  semangat Mitra semakin tumbuh, ketersediaan barang membaik,  hingga mitra tidak segan-segan  buka toko dari jam 06.00 s/d 22.00