CATATAN DIREKSI

T U T U P

SEVEL (Seven Eleven-711) ; menutup semua outletnya di Indonesia (baca : Jabodetabek), karena Franchisor (pemilik franchise) tidak memperpanjang hak “Master Franchise” dan tentu dengan alasan-alasan kuat mengapa mereka melakukan hal tersebut. Dari awal, sebagai Convenience Store, SEVEL-Indonesia telah ‘menyalahi pakem’; dari toko yang melayani individual; cepat; praktis (take & go); menjadi tempat belanja sekaligus tempat ‘nongkrong’. ‘Spending’ hanya Rp 30.000,- ; konsumen dapat menikmati fasilitas ‘mewah’; disediakan tempat duduk dan tersedia WI-FI. Akibatnya : membutuhkan ruang toko yang luas (200-600 m2); ‘pelayan’ toko yang banyak (6-10 personal). Selain ber’biaya operasional;’ tingggi, SEVEL Indonesia menciptakan segmen konsumen baru: Pelajar, pekerja informal dan para “pilot” GO-JEK pun jadikan tempat pangkalan. Biaya Operasional sangat tinggi dan tidak (akan) tertutup dengan hasil Penjualan. JADI : salah menerapkan konsep (walaupun dengan harapan penciptaan segmen baru) berakibat fatal !!

 

HYPER MART atau juga disebut sebagai : “Big Format’ toko untuk melayani kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Perhatikan  arus ‘merchandising’, bila anda mengunjungi Hyper mart : pintu masuk, pemajangan masif produk-produk elektronik, kemudian pemajangan (juga sangat masif) : produk-produk ‘general merchandise’ dan clothing (berbagai jenis pakaian & sepatu dan sejenisnya); baru kemudian kita akan bertemu dengan pemajangan produk-2 grocery dan di ujung toko dipajang semua produk-produk fresh (daging sapi, ayam & ikan, buah-buahan dan sayur-mayur) dengan segala kelengkapannya. Hypermart diposisikan (ciptakan persepsi) : serba ada.!

Konsep “big Format’ membawa konsekuensi logis : luas ruang penjualan yang (seharusnya) 6.000 m2 – 10.000 m2, jumlah karyawan dan tata kelolah produk (selalu tersedia, selalu ‘up to date’, selalu segar).

Tahun 2017, pelaku Hyper mart : Ramayana; Matahari Hypermart dan Giant (?) melakukan penutupan beberapa outlet mereka, dengan alasan : perubahan perilaku konsumen yang lebih suka berbelanja secara ‘online’.

Mungkin saja perilaku berbelanja secara ‘online’ salah satu faktor,  tetapi bila diperhatikan lebih seksama :lebih disebabkan oleh persaingan diantara mereka sendiri. Toko-toko ‘big format’ berada dimana-mana, bahkan hanya berjarak kurang dari 1 km dalam satu lokasi.

JADI: lebih kepada kegagalan dalam persaingan antar Hypermart; toko dengan konsep ‘big format’ berada di lokasi yang salah dan dalam jumlah yang melebih kapasitas/kebutuhan.

 

DEPARTEMENT STORES/ Branded Stores dengan konsep “big format’; juga terjadi penutupan outlet mereka (menghentikan bisnis dan atau melakukan ‘re-format). Debenhams dan Lotus menutup usahanya di Indonesia; H&M pusatnya di London telah mengumumkan penghentian usaha mereka dan patut diduga akan diikuti oleh Chain stores lainnya. Departement stores adalah toko yang menyediakan produk-produk ‘lifestyle’ (gaya hidup). Perkembangan teknologi informasi (digital) menyediakan ‘tempat belanja’ alternative. Belanja secara ONLINE (khususnya : life style products) berkembang pesat dimana konsumen DIMUDAHKAN berbelanja: pilihan produk, kecepatan mengikuti produk-produk baru, metode pembayaran dan tentu saja diikuti dengan perkembangan kualitas perusahaan-perusahaan kurir yang makin baik & dipercaya.

JADI : Perkembangan Informasi Teknologi dan ikutannya menjadi (salah satu ) penyebab berakhirnya masa keemasan bisnis Departement Stores.

 

Bagaimana dengan MINIMARKET ?

(sampai jumpa tulisan senin yang akan datang)

 

 

Selamat bekerja

 

 

Josep Setiawan Edy


Kami sedang mempersiapkan peningkatkan tampilan visual website kami. Tunggu tampilan baru website PT. Citra Mitra Nusantara.