CATATAN DIREKSI

PERILAKU KONSUMEN JELANG HARI RAYA IDUL FITRI

Paling tidak ada 2 (dua) alasan utama mengapa hari-hari menjelang Hari Raya Idul Fitri penting diperhatikan oleh dunia ritel modern:

  1. Umat Islam –penduduk Indonesia dengan populasi lebih dari 85% beragama Islam– segera merayakan Hari Kemenangan setelah menjalankan Ibadah Puasa (bulan Ramadhan). Masyarakat selalu merayakannya dengan gembira dengan berbagai cara sesuai dengan kebiasaan, tradisi dan budaya masing-masing daerah. Setiap keluarga akan menyajikan yang terbaik, seperti pakaian agamis, peralatan shalat baru untuk Shalat Ied, perangkat pakaian baru, sajian makanan khas Lebaran seperti ketupat, dan hidangan untuk handai taulan saat halal bihalal.
  2. Persiapan merayakan Idul Fitri membawa konsekuensi logis terhadap pengeluaran masyarakat yang sangat besar dan terjadi di semua tingkat kemampuan ekonomi masyarakat. Baik pejabat negara dari level tertinggi sampai terendah, maupun pengusaha dan karyawan swasta semua level, berusaha menyediakan yang terbaik untuk keluarga dan handai taulan. Masyarakat sektor informal biasanya telah mempersiapkan dana dengan cara menabung, sedangkan masyarakat sektor formal seperti pegawai negeri dan swasta mengharapkan untuk mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR).

 

Dengan 2 (dua) alasan tersebut di atas, tentu saja berakibat kepada pola belanja yang berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

Perilaku belanja, pada umumnya terbagi atas tahapan (waktu) seperti di bawah ini:

  1. Minggu pertama Ramadhan sampai dengan menjelang Idul Fitri, pengeluaran keluarga relative sama, pengeluaran ekstra atas panganan khas Ramadhan (madu, teh, kopi, makanan untuk berbuka puasa atau ta’jil seperti  buah segar dan kurma), walaupun berbeda dari hari-hari biasa namun tidak sampai terjadi pengeluaran ekstra dalam jumlah besar.
  2. 14 (empat belas) hari menjelang Idul Fitri, dipicu oleh THR, masyarakat mulai berbelanja, dengan urutan belanja perlengkapan pakaian dan perlengkapan rumah tangga, kemudian diikuti dengan belanja kebutuhan makanan (grocery), baik bahan olahan makanan (bahan membuat kue kering dan basah) maupun makanan jadi (biskuit, sirup, soft drink dll).
  3. Sebagian masyarakat yang tinggal merantau di kota-kota besar mempersiapkan dana khusus untuk lakukan ritual “mudik” atau “pulang kampung”.

 

Pelaku Ritel Modern PASTI menangkap peluang ini dengan : menyediakan apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen, memajang produk-produk terkait dengan mencolok dalam jumlah besar, dan menawarkan pilihan produk dengan harga-harga menarik.

PILIHAN, banyaknya produk dan banyaknya outlet ritel modern, membuat konsumen saat ini lebih banyak pilihan untuk “berbelanja apa dan di mana”.

Konsumen mempunyai kebebasan nyaris absolut untuk memilih tempat belanjanya.

Pada periode ini alasan praktis dan jarak bukan merupakan pertimbangan tempat berbelanja; lihat saja masyarakat yang tinggal di wilayah sekeliling Jakarta seperti Bekasi, Tangerang, dan Bogor banyak berbelanja di pertokoan Mangga Dua, walaupun bertaburan outlet-oulet ritel modern di sekitar tempat tinggal mereka.

 

Bagaimana Pelaku Ritel Modern menyikapi perilaku konsumen menjelang LEBARAN?

 

Salam,

 

 

Josep Setiawan Edy

President Director


APA KATA MEREKA

  • Dengan support yang baik dari CMN,  Mitra mampu bersaing dengan toko-toko sekitar

  • Bersama CMN, semangat mitra  dalam berjualan semakin membaik, berharap bisa terus melanjutkan kemitraan, dan berniat membuka sisi lain tokonya agar akses konsumen lebih mudah

  • Bersama CMN, Mitra  semakin berkembang, dan  berharap CMN dapat memilah produk yang banyak dicari pelanggan
  • Mitra semakin yakin akan kerjasama dengan CMN,  dan berniat  memperluas area tokonya supaya bisa menjual lebih banyak jenis barang
  • Dengan support dari CMN,  semangat Mitra semakin tumbuh, ketersediaan barang membaik,  hingga mitra tidak segan-segan  buka toko dari jam 06.00 s/d 22.00